Jumat, 12 Juni 2009

Nulis sambil nyedot ingus..(wuek..kkk)

Astaga. Weekend kemarin gue nonton Indosiar dan menemukan ada sinetron dengan bahasa Arab. Udah gila kali ya? Sinetron Arab gituh. Selama satu jam mereka menampilkan adegan-adegan dengan dialog berbahasa Arab. Salah satu pemeran di sinetron itu Titi Kamal. Tapi Titi Kamal hebat juga bisa berbicara Arab (keliatannya) lancar gitu. Kalo gue diajak main di sinetron begituan palingan dialog gue isinya istigfar doang.

Kenapa acara televisi Indonesia makin lama makin aneh sih?

Apa selanjutnya?
Termehek-mehek full pake bahasa Arab?
The Master pake bahasa Sunda?


Deddy Corbuzier: “Hulu urang bisa mawa maneh ka alam handap sadar maneh.”
(kepala saya akan membawa Anda ke alam bawah sadar Anda)

***

Kalau ada yang baca Babi Ngesot, mungkin tahu cerita tentang hantu penunggu di rumah gue. Si Richard Bule Ngehe digangguin pas kemaren dia nginep di rumah gue. Mhuahahahaha. Ceritanya bisa di baca di http://bulejugamanusia.blogspot.com/2009/03/bule-ngehe-berkelana-di-indonesia-part_20.html

***

Gue lagi suka dengerin demo-nya Sierra, salah satu penyanyi di OST Kambingjantan. Dengerin yang Ready for You deh, enak banget, di http://www.myspace.com/amandasierras. Terakhir gue denger dari Mas Yoyo album OST-nya sendiri kayaknya bakal release minggu ini, kalo udah keluar ntar gue notify deh.

Agak ribet deh, interview gue di media akhir-akhir ini banyak di belokkan, bahkan ada yang nambah-nambahin, ada yang gak akurat juga. Yang paling parah, ada yang menulis informasi yang gue kira gak bakal dipasang di medianya. I guess that’s just how media goes. Makanya jarang-jarang, gue nemu juga interview media yang cukup representatif di http://pr.qiandra.net.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=64640.

Sekedar nambahin, ada video interview gue yang mungkin paling “jujur” dengan KabariNews di: http://www.youtube.com/watch?v=WLoTFLNzL6k&feature=related. Ini part 2-nya, termasuk kenapa gue gak pasang komen lagi di sini: http://www.youtube.com/watch?v=E4REsErOZaA&feature=related

***

Gue baru baca blognya Gagasmedia, waduh gue jadi gak enak. Nampaknya ada beberapa orang yang menonton film Kambingjantan dan berpikir kalau ngasih naskah ke Gagasmedia harus punya kenalan dulu, bakalan dijutekin, dan sebagainya. Well, itu adalah interpretasi yang salah. Ngasih naskah ke Gagasmedia, kayak gue dulu, tinggal ngasih aja. Dijamin juga gak bakal dijutekin. Penggambaran di film seperti itu, memang hanya untuk kepentingan film. Hehe.

Tapi gue sarankan bagi semua orang yang mau ngasih naskah ke penerbit, sebisa mungkin jangan kirim lewat pos, tapi dateng ke kantornya dan minta ketemu editornya. Tentu saja, kalau pun ngirimnya lewat pos naskah kamu juga bakalan tetep di baca, tapi sebagai penulis gue menyarankan untuk ketemu editornya, dan serahkan naskah kamu langsung ke editornya.Pas lagi ngasih, jelaskan naskah kamu tentang apa, dan mengapa layak untuk diterbitkan. Ini namanya.. mencuri hati penerbit. Gue gak bisa jamin diterima apa engga, tapi that’s what I did tahun 2005 dengan Kambingjantan. :)

Ayo, rame-rame jadi penulis.

***

Gue udah dua minggu ingusan mulu nihhhh.
Kenapa gak ilang-ilang sih ingus gue?!

*Srot*

Tulisan dhika..

First of all, gue sangat prihatin atas kejadian yang menimpa Ibu Prita Muliasari, yang belom tahu kasusnya,
bisa baca lengkap di sini.

Sebagian gue kutip dari detik.com:

    Prita digugat secara perdata oleh RS Omni, dr Hengky dan dr Grace. Sedangkan secara pidana digugat oleh dr Hengky dan dr Grace. Secara perdata, Prita diganjar hukuman membayar kerugian materiil Rp 161 juta dan imateriil Rp 100 juta. Sedangkan sidang pidana dilakukan pada 4 Juni.

Gue menganggap RS Omni Internasional dan kedua dokter ini melakukan kesalahan yang sangat fatal, karena dengan memperkarakan kasus ini mereka bakal dapet banyak banget opini negatif dari publik (termasuk gue), gue menganggap RS Omni dan kedua dokter ini juga arogan karena bukannya legowo menerima masukan dari konsumen dan meningkatkan pelayanann; eh malah dikejar sampe penjara. I am strongly disgusted by this!

Dan selamat bagi ibu Prita yang baru keluar dari penjara,
walaupun statusnya masih tahanan kota.

Selamat juga buat para blogger yang secara tidak langsung mengkontribusi atas bebasnya ibu Prita,
terutama tikabanget yang udah proaktif peduli dengan kasus ini.

Hidup kebebasan berpendapat di internet.

bagi yang mau dukung juga, bisa gabung ke:
http://www.facebook.com/pages/Say-No-To-RS-OMNI-Internasional-Tangerang/87380835097
http://apps.facebook.com/causes/290597?m=0a88359c

***

On a lighter note, kemarin siang mbak Windy Ariestanty, pemimpin redaksi Gagasmedia, meminta izin untuk memposting tulisannya dia tentang gue di notes Facebook. Tulisan tersebut -sebenernya gak harus make izin juga sih- gue iyakan sambil ketawa-ketawa. Ini dia tulisan mbak Windy tentang kebodohan gue untuk tidak tahu hal-hal kecil/trivial dalam kehidupan sehari-hari. Gue ketawa ngakak baca tulisannya dia. Hahahahaha.

Betewe, gue yakin banyak orang yang juga gak pernah lihat pohon Salak!
Iya gak sih? Iya kan? (mencari dukungan dengan desperate) Hehehe.

Ini dia tulisannya mbak Windy Ariestanty,
tulisan asli ada di http://www.facebook.com/note.php?note_id=82835239635&ref=mf :

Raditya Dika dan Pertanyaan Trivia Quiz-nya

Sore itu, Raditya Dika, si penulis komedi, datang sambil tersenyum malu-malu kucing ke kubikel saya.

Tata, salah satu anak Bukune yang ada di depan saya sudah menahan senyum sejak tadi. Sebelum Radith menghampiri kubikel saya, Tata sudah lebih dulu keluar dari ruangan Bukune dengan ekspresi menahan tawa. Tata menceritakan apa yang barusan terjadi di dalam.

Belum selesai saya mencerna cerita Tata, tawa membahana teman-teman Bukune dan tawa sumbang Radith terdengar. Lalu tak berapa lama, ia keluar dari ruangannya untuk menghampiri saya.

‘Mbak W, aku baru tahu loh yang soal si A dan si R,’ konfirmasinya. Cerita tentang si A dan si R ini ada di tulisan Note saya terdahulu yang berjudul ‘IS: Semua Mata tertuju Kepadamu’.

Saya mendelik. ‘Heh? Emang nggak pernah tahu?’ Kepercayaan diri saya mulai naik. Ternyata ada yang lebih kuper dari saya nih.

‘Nggak. Terus begonya lagi, aku tanya “Siapa si R itu” sama R-nya sendiri,’ terang Radith. Tawa Tata dan saya meledak berbarengan.

Radith garuk-garuk pantat.

***

Begitulah Radith.

Pembaca menganggap dia lucu. Saya dan teman-teman di Gagas-Bukune mungkin sudah tidak bisa lagi tertawa membaca tulisan Radith. Bukan karena tulisannya tidak lucu. Bukan. Tapi karena, in the real life, banyak hal tentang Radith yang lebih bisa kami tertawakan, meskipun saat itu jaaauuuh dari lucu. Dan Radith-nya pun tak bermaksud melucu.

Kalau saya ingat-ingat, ada banyak kejadian dengan Radith yang membuat perut saya sakit karena menahan tawa. Satu ketika, kami pernah melakukan perjalanan dengan mobil menuju Purwokerto untuk talkshow. Di dalam mobil, ada beberapa orang lainnya seperti Mas Fuad, Pak Tan, Pak Hikmat, Mbak Maurin, dan Pak Yayan

Ceritanya, kami harus bedol Montong 57 (markas besar kami) untuk mengisi acara di sebuah pameran buku yang diadakan Buka Buku. Di dalam perjalanan itulah terungkap kalau Radith sama sekali tak pernah tahu seperti apa rupa pohon salak. Kontan satu mobil tak percaya.

Namun, ekspresi bego Radith akhirnya membuat kami menerima kenyataan pahit itu. Radith tidak tahu pohon salak. Dan ia juga tak pernah tahu seperti apa pohon nanas.

‘Aku selalu berpikir nanas itu menggantung di pohon seperti mangga,’ tegasnya. Sampai sekarang, setiap kali ditanya tentang flora, dan dia tidak tahu rupanya, Radith selalu menjawab, ‘Lagian apa pentingnya coba tahu pohonnya kayak apa?’

Uji pengetahuan ini ternyata masih terus berlanjut. Hari terakhir di Purwokerto terungkap pula sebuah fakta. Selama ini Radith mengira, Purwakarta itu Purwokerto. Layaknya orang Jawa, a itu dibaca o. ‘Iya, kan, Mba W?’ Ia berupaya mencari dukungan. Pastinya saya nggak hanya tertawa, tapi juga menggeleng dengan tegas.

Tapi nasi sudah jadi bubur. Ia mengucapkan itu di atas panggung ketika talkshow. Kontan saja semua penggemar asal daerah Bayumas dan sekitarnya yang datang—jumlahnya ratusan—teriak protes. ‘Purwokerrrrtooooo!’

Radith terdiam. ‘Loh, bukannya sama?’ tanyanya kepada audiens.

‘Beeeeeedaaaaaa!’

Lagi, dia garuk-garuk pantat di atas panggung.

Selesai acara, Radith segera menarik saya dan Mbak Maurin menyingkir ke sebuah kafe. Dia masih terus mempertanyakan soal Purwokerto dan Purwakarta. Saya pikir di panggung dia sedang melucu. Ternyata dia serius.

Dan lagi, saya harus menerima kenyataan pahit itu. Pengetahuan geografi Radith cekak.

‘Mbak, emang beneran beda?’

‘Purwokerto di Jawa Tengah, Purwakarta masuk Jawa Barat,’ terang saya. ‘Ada lagi Purworejo.’

‘Heh ada lagi yang lain?’ Matanya mendelik.

‘Itu di Jawa Tengah, Dith. Deket Yogya. Sekitar 2 Jam kalau pakai mobil.’

Mukanya tetap nggak terima. ‘Kenapa sih kasih nama aneh-aneh. Aneh ya?’

Kali ini saya memilih nggak menjawab selain menahan kentut.

***

Saya bukan hendak mengumbar kebodohan-kebodohan yang dilakukan Radith. Radith itu pintar. Dan serius. Serta sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan ‘absurd’. Tapi karena serius itu saya dan teman-teman di Gagas-Bukune kerap tertawa.

Pernah, di sebuah kafe, masih di Purwekerto, saya, Radith, dan Mbak Maurin sedang makan sambil menikmati nyanyian sepasang penyanyi kafe.

Penyanyi yang cowok, berperawakan kurus. Kepalanya ditutupi dengan topi ala rasta. Kepalanya digerak-gerakan ke depan-belakang. Untuk ukuran tubuhnya yang kurus, topi yang ia kenakan membuat kepala terlihat jauh lebih besar dan tidak proposional.

Kami semua diam. Tidak ada yang bercakap. Konsentrasi penuh menikmati hiburan yang ada di depan kami.

‘Kok kepalanya kayak deodorant ya?’ celetuk Radith tiba-tiba. Radith melihat ke arah penyanyi dengan mimik serius. Lalu ia menirukan gerakan kepala penyanyi itu sambil mengangkat sebelah ketiaknya. Memberi gambaran seperti apa kepala deodorant itu kalau dipakaikan di ketiak. *)

Saya dan Mbak Maurin tertawa terbahak-bahak.

Pertanyaan-pertanyaan dalam hidup Radith terus berlanjut. Seperti Dora, The Explorer, Radith juga terus melakukan eksplorasi untuk pengetahuan yang baru saja ditemukannya.

Misalnya, ternyata telur asin itu terbuat dari telur bebek.

Hari itu, tak biasanya ia datang awal. Saya yang lagi serius dengan laptop saya tiba-tiba dikagetkan dengan kepala Radith yang muncul dari sisi atas kubikel.

‘Mba W, aku baru tahu satu hal loh’ Senyumnya lebar terkembang.

‘Apaan?’ tanya saya melirik curiga. ‘Udah tahu bentuk pohon nanas?’

‘Belum,’ jawabnya kalem. ‘Tapi, aku baru tahu kalau telur asin itu dari telur bebek.’

Tawa kencang justru bukan keluar dari mulut saya. Tapi dari kubikel di belakang saya. Pak Luluk, si Pemimpin Redaksi AgroMedia, penerbit yang fokus banget soal agrikultur, termasuk peternakan. ‘Serius lo baru tahu?’ tanyanya sambil terus tertawa.

‘Iya,’ Radith menjawab sambil masuk ke kubikel saya lalu duduk di atas meja. Ia menatap Pak Luluk dengan serius. ‘Padahal aku suka loh makan telur asin.’

Entah kenapa, saya sudah tidak bisa terkejut lagi. Saya sudah sering bikin trivia quiz buat Radith. Dan rata-rata dia tidak bisa menjawabnya, kecuali ternyata dia tahu seperti apa rupa pohon tebu.

‘Emang kenapa sih harus telur bebek, Pak Luluk?’ Radith memasang mimik serius.

‘Karena untuk telur asin, telur bebek lebih enak.’

‘Nggak bisa pake telur ayam aja?’ Halllahhh, kali ini saya yang takjub.

‘Bisa, tapi rasanya nggak seenak telur bebek,’ jelas Pak Luluk sabar.

Radith manggut-manggut, tentunya kali ini tanpa menggaruk pantat.

***

‘The unexamined life is not worth living,’ kata Socrates. Hidup yang tidak boleh dipertanyakan adalah hidup yang tidak layak untuk dijalani.

Tentu saja saja, Radith punya cara dia sendiri mempertanyakan kehidupan yang dijalankannya agar berharga. Setidaknya pertanyaan-pertanyaan trivia quiz ala Radith sukses membuat saya dan teman-teman di Gagas-Bukune bisa tertawa di antara jadwal deadline. (Well, oke, sebenarnya kami tertawa sepanjang hari untuk semua hal, kok!)

Omong-omong, apakah Radith tahu buah gandaria seperti apa?

*) Bayangan tentang ‘Kepala Deodorant’ di ketiak ini bisa dilihat di komik Kambing Jantan karya Raditya Dika dan Dio Rudiman.

On My Own Books

Comment by Email

di simpan di : menjadi penulis
May 27, 2009 , 5:08 pm

Tiga hari lalu, di sebuah talkshow, ada orang nanya:
“Dari semua buku yang lo tulis, mana favorit lo?”

Terus terang,
gue bingung.

Gue mengibaratkan buku-buku gue sebagai bayi-bayi gue sendiri. Bukan berarti buku ini ada di perut gue selama 9 bulan, lalu di suatu pagi air ketuban gue pecah, gue ngangkang, dan mejret keluar begitu saja. Tapi lebih kepada, buku-buku ini adalah buah hati gue, semacam sesuatu yang gue nurture dengan begitu lama, hati-hati, dan akhirnya lahir dan dipajang di toko buku. Seperti orangtua lain, gue ngerasa buku-buku gue punya personality sendiri, punya kepribadian sendiri yang berbeda dengan buku yang lain. Seperti orang tua lain, tentu susah dong milih anak sendiri yang paling favorit?

Kambingjantan, bagi gue terlihat seperti seorang rebel, anak pembangkang yang “kasar”. Cinta Brontosaurus di mata gue lebih pemalu, kontemplatif, jujur, dan rapuh. Radikus Makankakus lebih biasa-biasa saja, terkadang wise. Babi Ngesot, hampir sama kayak Kambingjantan, dia juga lebih “kasar” dan, ehm, pemberani. Gak banyak yang bisa gue bilang soal Komik Kambingjantan karena gue ngelahirin itu bersama Dio, kami berdua adalah orangtuanya (okay, this sentence sounds very wrong).

Satu hal yang gue sadari, ketika lagi menulis buku-buku ini, apa yang lagi gue tonton, baca, atau pikirkan, atau kondisi mental gue saat itu, sangat mempengaruhi hasil akhir tulisan gue. Kambingjantan gue tulis ketika gue lagi sangat-sangat suka Lupus, mau gak mau banyak influence Hilman Hariwijaya di situ. Cinta Brontosaurus, ketika gue lagi tergila-gila sama filsafat dan David Sedaris. I had the contemplation part from philosophy, sedangkan komedinya dan cara penuturannya dari David Sedaris. Radikus Makankakus, gue lagi suka sama Ellen Degeneres, lebih eksperimental dan eksposisif. Babi Ngesot gue buat ketika gue lagi suka nonton stand-up orang-orang kulit hitam terutama yang ada di showcase Def Jam, yang terkenal dengan kekasaran komedinya. Makanya, draft pertama buku Babi Ngesot sangat-sangat kasar sekali komedinya, sampai editor gue, mbak Windy Ariestanty harus merevisi dan mengedit bagian-bagian yang keterlaluan. Begitu dibilang mbak Windy, “Kamu jadi kayak orang yang kasar banget”. Gue langsung jawab, “Haduh, maap mbak kebawa influence.”

Gak cuman dari komedian atau buku yang gue baca, influence juga bisa didapatkan dari film yang lagi gue tonton, “aura film” yang pas ngebuat gue jadi satu nada dengan tulisan gue sendiri. Sebagai contoh, bab Di Balik Jendela - Cinta Brontosaurus gue tulis di saat gue lagi suka sama film Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Ceritanya beda, temanya beda, tidak ada karakter yang sama, issue-nya beda, tapi “feel” sewaktu nulis Di Balik Jendela adalah feel yang gue rasakan sewaktu nonton film Eternal Sunshine of The Spotless Mind. Gue ngerasa rapuh.

AS Laksana, seorang sastrawan dan mantan bos gue (merangkap guru menulis, yang ini dia gak pernah sadar.. Hihihi), pernah mengatakan untuk membaca sebanyak-banyaknya buku dan menonton sebanyak-banyaknya film. Karena penulis yang baik adalah penulis yang punya referensi yang banyak. Menurut gue sangat benar. Penulis yang baik juga akan selalu mengadopsi dan mempelajari, tapi tidak pernah mencuri.

Kenapa gue bisa kepikiran sampai sejauh ini?

Gue sekarang lagi nulis buku kelima, dan gue saat ini gue lagi suka banget kolom Modern Love-nya New York Times, kolom berisi tulisan-tulisan orang tentang “cinta di zaman modern” yang memang sangat absurd itu. Gue juga lagi berulang-ulang baca (dan tidak pernah bosan) The Things They Carried - Tim O Brien; penulisannya sangat-sangat rapi, halus, dan bisa ngebawa kita “masuk” ke dalam tulisannya. Untuk komedi, gue lagi suka The Office, dengan comedic timing yang perfecto. Stand up comedian, gue lagi giat-giatnya membedah Dave Chappelle yang sarkastik dan sinis. Gue juga lagi memelajari buku-buku komedi lamanya Woody Allen kayak Without Feathers. Gue mencoba untuk membentuk bayi kelima gue melalui influence-influence ini.

Saatnya menulis kembali berarti saatnya belajar kembali.
Banyak sekali hal yang gue belom ngerti dalam menulis dan komedi.

Gue ingin membuat buku komedi yang kelima lepas dari “bego-begoan, tolol-tololan” yang sekarang udah terlalu bikin jengah di toko buku. Gue pengen back to basic: contemplative comedy. Sebuah komedi yang lucu, ngebuat ngakak sambil guling-guling, tetep “bodoh”, tapi kontemplatif, relateable, dan pada akhirnya -yang paling penting- berbekas. Seperti Supernova, Fight Club, Things They Carried, atau Annie Hall yang begitu ngebekas di hati gue setelah konsumsi. Karena pada akhirnya, komedi adalah cara kita untuk memahami hal-hal yang kita tidak bisa pahami. Seperti kata Moliere, “The duty of comedy is to correct men by amusing them.”

Mudah-mudahan, gue bisa. :)

Best tuuu...

blog chika...

Mengenai Saya

Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia
tolong lah aku... dri k'hampa'an ini... slmt kan cinta ku... dri hncur'x hati ku... hempas kan k'sndrian yg tak p'nah b'akhr... bebas kan aku... dri k'ada'an ini... sempurna kan hdup ku... dri rapuh'x jiwa ku... ada kah s'seorng yg m'lepazkan ku... dri kesepian ini...

Lencana buat Facebook Gitu...

Pengikut